Pandemi Covid 19 adalah sebuah peristiwa “kemanusiaan” yang mendunia.
Dampak nyata atas peristiwa tersebut. Terutama dari aspek bisnis, adalah telah terjadi penurunan daya beli masyarakat secara global.
Penurunan daya beli tersebut, salah satu sebabnya adalah karena proses produksi dan permintaan mengalami “ketimpangan”.
Sebagian besar pengeluaran pemerintah dan privat atau rumah tangga diperuntukkan pada sektor kesehatan, obat-obatan dan lainnya.
Akibat hal tersebut, proses produksi dan permintaan di luar bidang kesehatan dan obat-obatan menjadi “terdampak”
Sebelum pandemi Covid 19 “mewabah” produksi dilakukan sesuai dengan kapasitas produksi yang tersedia.
Begitu terjadi pandemi Covid 19. Daya beli mulai melemah di sisi lain persediaan barang dan jasa mengalami “kelebihan persediaan”
Kini pandemi Covid 19 mulai “melandai”.
Lalu bagaimanakah kondisi “permintaan dan penawaran” atas batang dan jasa.
Kondisi saat ini, dimungkinkan terjadinya kelebihan penawaran barang dan jasa di bandingkan permintaan.
Hal ini terjadi sebagai akibat tingginya tingkat persediaan barang karena tidak terserap pasar, terutama hasil produksi sebelum pandemi.
Jika ini terjadi, maka dalam beberapa tahun mendatang akan terjadi penjualan “banting harga, cuci gudang, diskon gila-gilaan” dan lain lain.
Kondisi tersebut di atas, sudah pasti akan berpengaruh pada produk lokal.
Dalam hal ini, mengalami persaingan hebat dan jika tidak di siasati, maka dapat di pastikan akan mengalami distorsi.
Untuk mensiasati hal tersebut, maka salah satunya adalah menjadikan produk lokal sebagai produk yang KOMPETITIF, dalam arti: kompetitif kwalitas, harga, distribusi, pelayanan, dan lain sebagainya.
Bagaimanakah, menjadikan suatu produk yang kompetitif..?
Suatu produk yang kompetitif, ia harus bebas dari ketergantungan dengan pihak lain, terutama komponen produksi yang berbasis impor.
Suatu produk lokal akan bebas dari ketergantungan komponen impor jika proses bahan baku dan komponen produksi lainnya bersumber dari produk lokal di kelola dari HULU hingga HILIR. Ulangi dari hulu hingga hilir.
Kegagalan meng-unggul-kan produk lokal, lebih di sebabkan terabaikannya “mata rantai” proses produksi “hulu hingga hilir” tersebut.
Hampir menjadi keniscayaan, upaya menciptakan keunggulan produk lokal tanpa adanya strategi untuk menciptakan saling keterkaitan proses produksi, distribusi dan permintaan pasar yang berbasis dari “hulu hingga hilir”
Jika ada pesan pengingat yang perlu dicermati, mata pesan itu adalah:
“Perilaku pasar tidak pernah mengenal kasihan”
Wassalam
Ali Dambrah