Seperti kebanyakan para ahli mendefinisikan, bahwa PASAR adalah “pertemuan antara sisi penawaran dan permintaan untuk menciptakan harga”

Pada  pasar Ramadhan di Kabupaten Kapuas, hal ini pun terwujud.

Indikasi keberhasilan pasar Ramadhan tahun ini dapat terlihat dengan “dinamisnya” pergerakan para pelaku UMK dan pengunjung untuk saling memenuhi kebutuhannya masing-masing.

Pasar Ramadhan yang “menjajakan” beragam produk, dari bahan makanan, pakaian, kerajinan tradisional hingga lukisan.

Hal ini menandakan bahwa pelaku UMK di daerah ini telah menyiapkan diri untuk bersaing di tengah persaingan global.

Memang tidak dapat dipungkiri, kehadiran pemerintah daerah sebagai penentu kebijakan dan sekaligus “eksekutor” untuk menggairahkan pasar Ramadhan tersebut berperan strategis.

Kehadiran pemerintah daerah tersebut, sangat dirasakan oleh pelaku UMK yang terlibat pada pasar Ramadhan, semisal: seluruh sarana dan prasarana untuk kelengkapan para pedagang didukung dan dibiayai oleh pemerintah daerah bersama dengan pemangku kepentingan terkait, seperti: lembaga perbankan, PLN, Kadin dan instansi vertikal lainnya.

Dari fasilitas yang disediakan penyelenggara secara cuma-cuma, maka UMK terbebas dari sebagian biaya operasional.

Bagi penyelenggara, untuk “menggairahkan” pasar Ramadhan, tidak cukup dengan menyediakan lapak beserta dengan pernak-pernik lainnya secara gratis.

Panitia juga telah menciptakan suasana “nyaman” dengan menghadirkan pertunjukan yang bersifat menghibur dan edukatif.

Pasar Ramadhan kali ini, telah “menuai” banyak apresiasi di antaranya oleh Bupati Kapuas, Pak Ben panggilan akrab Beliau, unsur Forkopinda Kabupaten Kapuas dan juga Ibu Ary Egahni Anggota DPR-RI Dapil Kalteng.

Apresiasi Ibu Ary panggilan akrab Beliau  “berwujud” dengan adanya pemberian dana stimulan bagi pelaku UKM sebagai peserta terbaik dari segi “keapikan” dalam menata lapak dan pemeliharaan lingkungan.

Sebagai kometmen nyata dari pemerintah daerah untuk menunjang keberhasilan pasar Ramadhan tersebut, terlihat dengan dukungan ASN beserta keluarganya untuk secara bergantian mengunjungi pasar Ramadhan.

Sampai hari terakhir aksi “borong” tersebut dilakukan oleh Bupati Kapuas, anggota Forkopinda, Ibu Ary Egahni dan pengunjung lainnya.

Kondisi tersebut berbuah rasa bersyukur yang tak terhingga dari pelaku UMK.

Seperti Ibu Melinda, pak Yahya, pak Yadin selaku ketua komunitas WAG yang mengkhususkan diri untuk membina UKM, dkk. Hingga penyelenggara “kebanjiran” ucapan terima kasih dan apresiasi lainnya.

Jika ada semacam anggapan bahwa pasar Ramadhan tahun ini memberikan nuansa berbeda, maka hal itu adalah wajar

Pasar Ramadhan tahun ini, telah memberikan banyak capaian yang diperoleh, semisal:  “mesranya hubungan” antara unsur pemerintah dan pelaku UKM, terjadinya wahana untuk bersilaturahim, peningkatan pendapatan, terjaganya rasa kebersamaan dan sebagai pembelajaran untuk menilai kekuatan dan kelemahan semua pihak.

Tentu untuk perbaikan di masa depan.

Berpisah dengan suasana kebersamaan di pasar Ramadhan, memang terasa berat

Namun waktu jualah yang membatasinya.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1443 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Wassalam

Ali Dambrah

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *