Sengaja saya mulai tulisan ini dengan mengutip ungkapan ahli lingkungan, bahwa:
“Suatu saat harga satu liter air akan lebih mahal dari satu kilogram emas”
Tafsiran saya dari ungkapan tersebut bermakna, bahwa: manusia termasuk makhluk hidup seperti flora dan fauna.
Tidak akan dapat bertahan hidup tanpa air.
Saat ini, bukan menjadi rahasia umum lagi. Air baku yang layak dikonsumsi hampir dipastikan menjadi barang “langka”
Masih dari para pemerhati lingkungan hidup, bahwa: air yang kita pergunakan saat ini, adalah hasil dari proses alam/bumi selama (sekitar) 40-50 tahun lebih
Air berproses dengan kebaikan alam dari waktu ke waktu hingga sampai di mana kita dapat mengkonsumsinya.
Air yang tadinya berfungsi sebagai wahana berkembang biaknya flora-fauna dan berbagai makhluk hidup lainnya.
Kini mengalami “kerusakan” dan sebagai akibatnya terdapat beberapa “makhluk hidup” berangsur punah ( kualitas/kuantitas bahkan spesiesnya) dan tidak kembali lagi.
Sumber air bisa saja berkurang secara alami, tapi bisa juga disebabkan oleh suatu teknologi.
Dalam sebuah bacaan, oleh penulisnya dinyatakan bahwa: terdapat suatu teknologi yang dapat memindahkan sumber (mata air) dengan cara “tertentu”.
Maka, terbayang oleh kita bahwa: betapa mahluk hidup sangat tergantung terhadap air.
Jika saat ini, penduduk dunia diperkirakan 7 milliar LEBIH.
Dan dalam horizon waktu 25 tahun mendatang, penduduk dunia bertambah menjadi 9 milliar LEBIH.
Maka, tidak perlu berandai-andai lagi bahwa: jika tidak dari sekarang kita memelihara lingkungan hidup, maka malapetaka lambat atau cepat akan menimpa kelangsungan hidup manusia.
Memang, ada beberapa pihak yang membangun teori bahwa alam akan dapat memperbaiki keadaannya..
Teori ini, relatif mempunyai kebenaran ketika pandemi Covid 19 melanda dunia.
Dimana setiap orang (kebanyakan) telah mengurangi mobilitas sosialnya dan pada saat tersebut telah terpantau dibeberapa kota besar kondisi udara/polusi semakin membaik.
Namun teori tersebut, tidak dapat berhenti sampai di situ saja.
Seorang bijak penulis lingkungan hidup, pernah berujar, bahwa “Bumi yang kita diami saat ini, bagaikan sebiji buah apel. Di dalamnya hidup dan berkembang ribuan ulat dan setiap saat mengkeripnya”
Kesadaran pemahaman tentang perlunya memelihara kelestarian lingkungan hidup adalah suatu hal yang tidak dapat ditunda lagi.
Kesadaran tersebut, haruslah menjadi visi semua penduduk dunia.
Untuk mewujudkan hal tersebut, maka pemahaman tentang kelestarian lingkungan hidup harus menjadi BUDAYA setiap orang.
Tidak perlu menjadi kurikulum muatan lokal. Namun demikian kebijakan dan program terencana, sistematis dan masif dari lingkup keluarga, masyarakat dan dunia pendidikan, kelestarian lingkungan hidup dapat terwujud.
Dengan “kebijakan” tersebut, di yakini bahwa pemahaman dan implementasi pemeliharaan lingkungan hidup dapat terealisasi sebelum “bencana lingkungan menerpa kehidupan”
Bencana lingkungan hidup, bisa saja menimpa setiap saat. Namun juga dapat berproses untuk jangka waktu berikutnya, yaitu “generasi mendatang”
Masih mengutip cerdik pandai.
Seorang ahli pernah berujar, BAHWA: “Sesungguhnya bumi yang kita diami saat ini, bukanlah milik kita. Tapi dipinjam dari anak cucu yang saat ini mereka belum lahir”
Wassalam
Ali Dambrah