Pangkalan Bun, infokalteng.co.id – Ribuan masyarakat memadati kawasan Teluk Pamali, hulu Sungai Arut, Desa Riam, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), untuk mengikuti tradisi Menuba Adat. Tradisi masyarakat adat Dayak tersebut menjadi bagian dari ikhtiar bersama memohon turunnya hujan di tengah kondisi kemarau yang melanda sejumlah wilayah.
Kegiatan menuba adat pada Senin (24/8) ini dihadiri Bupati Hj. Nurhidayah, Wakil Bupati Suyanto, serta sejumlah kepala perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kobar.
Menuba merupakan tradisi masyarakat adat Dayak dalam menangkap ikan dengan memanfaatkan cairan alami yang dihasilkan dari tanaman yang disebut Tuba. Cairan tersebut dilarutkan ke dalam aliran air untuk membantu proses penangkapan ikan yang dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat.
Namun, bagi masyarakat Dayak, menuba tidak sekadar menjadi aktivitas menangkap ikan. Tradisi tersebut juga memiliki nilai budaya dan spiritual yang menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Dayak, termasuk sebagai sarana memanjatkan doa dan harapan kepada Sang Pencipta agar diturunkan hujan.
Suasana kegiatan berlangsung meriah, ribuan masyarakat dari sejumlah desa di sekitar Kecamatan Arut Utara turut hadir dan mengikuti tradisi tersebut. Bahkan, masyarakat dari beberapa desa di wilayah Kabupaten Lamandau juga datang untuk menyaksikan dan mengikuti kegiatan adat yang dilaksanakan secara bersama-sama.
Bupati Hj. Nurhidayah mengatakan, pelaksanaan menuba adat menjadi ikhtiar bersama masyarakat dalam menghadapi kondisi kemarau yang saat ini berdampak terhadap kehidupan masyarakat, termasuk munculnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan di sejumlah daerah.
“Ini ikhtiar bersama sebagai salah satu hajat, sekaligus mengangkat kearifan lokal dan budaya, kita memiliki satu tujuan dan keinginan bersama,” ujar Hj. Nurhidayah.
Menurutnya, di tengah kondisi kemarau yang cukup memprihatinkan, masyarakat tetap perlu melakukan berbagai upaya sesuai dengan keyakinan dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi menuba menjadi salah satu bentuk kebersamaan masyarakat dalam menyampaikan doa dan harapan.
Dalam kondisi keprihatinan kemarau yang menyebabkan karhutla, bahkan kekeringan di beberapa daerah, semoga niat dan doa melalui para leluhur dan ritual ini bisa berjalan sesuai keinginan, kita tetap berusaha sebagai manusia,” katanya.
Hj. Nurhidayah juga mengapresiasi antusiasme dan kebersamaan masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, kekompakan masyarakat dalam menjaga dan melestarikan tradisi merupakan bagian penting dalam mempertahankan identitas budaya daerah.
Pewarta : Pj
Editor : Admin 1